loading...

Menghargai Privasi Anak

Menghargai Privasi Anak

Menginginkan privasi–khususnya ketika anak sedang dalam masa pubertas–adalah hal yang sangat manusiawi. Mungkin saat anak masih kecil, mereka lebih terbuka dan senang berbagi cerita kepada orang tua. Namun seiring berjalannya waktu, anak juga akan tumbuh dewasa dan memiliki konflik serta ‘dunianya sendiri’ yang tidak melibatkan orang tua di dalamnya.

Istilah privasi berarti tentang memiliki hak tersendiri untuk mengatur seberapa banyak akses yang dapat kita berikan kepada orang lain untuk masuk ke ruang pribadi kita. Seiring bertambahnya usia remaja, otak anak juga akan mulai berkembang dan mereka juga tentunya memperoleh keterampilan dalam berpikir dan mengembangkan minat sosialnya. Wajar saja jika anak mendambakan privasi dan ruang ketika menekuni minatnya tersebut.

Memang sulit bagi orang tua untuk tidak terlibat dalam fase ini. Apalagi, orang tua pasti sudah terbiasa dengan keterbukaan sang anak sejak kecil. Tapi, ini memang sudah menjadi bagian dari tantangan bagi orang tua untuk bisa menaruh rasa percaya kepada mereka.

 

Mengapa Orang Tua Harus Menghargai Privasi Anak?

Menghargai privasi anak merupakan sebuah bentuk kepercayaan orang tua terhadap anak. Apalagi ketika sedang menuju usia remaja, anak pasti ingin dianggap telah dewasa dan bisa bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan. Dengan memberikan mereka privasi, orang tua berarti memberikan mereka ruang untuk belajar mandiri dan membangun rasa percaya diri mereka.

Selain itu, orang tua juga harus ingat bahwa seiring bertumbuhnya anak, tubuh mereka juga mengalami perubahan secara fisik. Di usia tujuh atau delapan tahun, biasanya anak sudah mulai merasa tidak nyaman ketika orang melihatnya dalam keadaan telanjang. Tak jarang orang tua menganggap hal ini remeh dan beranggapan “kan saya sudah pernah lihat kamu telanjang.” Eits, tidak boleh seperti itu ya! 

Hargailah kebutuhan akan privasi mereka. Sebab, ini adalah hal yang wajar sebagai bagian dari perjalanan mereka menjadi anak yang mandiri.

 

Dampak Buruk Jika Anak Tidak Diberi Privasi

Jika orang tua terus melanggar privasi anak, bisa-bisa mereka akan beranggapan bahwa orang tua mereka tidak menaruh kepercayaan kepada mereka sepenuhnya. Ini juga akan berdampak terhadap rasa percaya anak terhadap orang tua. Akibatnya, akan banyak konflik yang terjadi antara orang tua dengan anak kedepannya.

 

Apa yang Dapat Orang Tua Lakukan Untuk Menghargai Privasi Anak?

Setelah mengetahui alasan mengapa orang tua penting menghargai privasi anak, sekarang orang tua harus tahu nih, apa saja sih yang bisa orang tua lakukan untuk menunjukan kepada anak bahwa parents menghargai privasi mereka? Nah beberapa contoh di bawah ini bisa kalian terapkan!

 

1. Biarkan anak memiliki “zona pribadi”

Sudah saatnya orang tua mengizinkan anak untuk menyendiri di kamar dengan pintu terkunci. Dengan begini, anak bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri tanpa ada gangguan dari orang lain. Anak bisa bernyanyi dengan keras dan bercermin tanpa perlu khawatir ada orang yang mengintip.

Penting juga bagi orang tua untuk tidak mencampuri percakapan anak dengan teman-temannya. Sebab hal ini tidak hanya mempermalukan mereka, tapi juga mengganggu privasi kelompok pertemanannya. 

 

2. Diskusikan soal batasan untuk kebebasan dan privasi

Meskipun diberi kebebasan, orang tua tetap harus mendiskusikan dengan anak tentang batasan dari “bebas” tersebut. Misalnya, ketika anak membawa teman ke kamar, orang tua bisa membuat perjanjian bahwa mereka bisa menutup pintu, tapi tidak dikunci. Atau bisa juga mendiskusikan tentang keputusan apa saja yang bisa diambil sendiri dan apa yang butuh persetujuan dari orang tua.

 

3. Tetap pantau anak, tapi jangan terlalu kepo

Paham kok, pasti orangtua selalu ingin tahu apa yang mereka lakukan di luar rumah bersama teman-temannya. Tapi, jangan sampai orang tua melewati batas hanya untuk memenuhi rasa penasaran tersebut. Apalagi sampai mengorek-ngorek barang pribadi mereka – seperti membaca buku harian dan chat anak dengan teman-temannya.

Cobalah untuk membangun hubungan yang sehat dengan mengajak anak untuk berdiskusi dalam percakapan panjang untuk mencari jawaban yang selama ini mengganggu orang tua. Ingat, sebagian remaja sangat suka berbicara tentang diri mereka dan mereka tentunya akan senang jika ada yang mendengarkan.

 

4. Hormati keputusan anak

Anak tentunya akan memiliki selera yang berbeda dari orang tua mereka. Baik itu dalam musik, makanan, gaya berpakaian, dekorasi kamar, idola, dan lain-lain. Sebagai orang tua yang baik, hindari untuk memaksakan preferensi pribadi orang tua pada preferensi anak. Sebab, ini dapat membuat anak merasa bahwa privasi dan pilihan mereka terganggu yang kemudian menimbulkan konflik antara orang tua dan anak.

Meskipun memberi privasi kepada anak itu penting, orangtua juga tetap harus memastikan bahwa kalian selalu ada untuk membimbing mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Namanya juga remaja, pasti ada saja waktu di mana mereka terlalu cepat mengambil keputusan, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus dihadapi setelahnya.

0 Comments

Leave a comment

Facebook   Twitter   Instagram   Linkedin   Email   Google+   Whatsapp   Google+   Youtube

Maaf Website Tanpa Klik Kanan